refleksi kasus penghormatan

Lagi-lagi nusantara tak henti-hentinya mendapatkan tingkah polah yang cukup memprihatinkan dari rakyatnya sendiri. Baru-baru ini santer terdengar kasus tentang mokongnya para pegawai negeri sipil di karanganyar, tapi pembakangan ini lebih ekstrim lagi Karena yang dilakukan oleh pegawai negeri sipil tersebut dirasakan kurang pas dengan status jabatannya yang menjunjung nama pegawai negeri. Seperti diberitakan sebelumnya bahwa telah terjadi penolakan penghormatan terhadap bendera merah putih yang dilakukan oleh 7 orang pegawai negeri sipil di wilayah kabupaten karanganyar diantaranya di kecamatan tawangmangu dan kecamatan jatiyoso. Tak pelak dua sekolahan, Al Irsyad dan SD IST Al Albani Matesih jadi korban dari perilaku yang kurang pantas dari para PNS tersebut. Bupati karanganyar pun berang mendengar berita ini dan akan segera menyelidiki siapa saja pelaku dari pembakangan kecil ini serta mengancam akan member sanksi sepadan untuk perbuatan mereka. Bahkan kedua sekolahan tersebut terancam akan ditutup karena menolak melakukan penghormatan terhadap bendera Merah Putih. Mendengar berita ini tentunya tidak semua pihak langsung menstereotip ke tujuh orang ini dengan kata “negative dan tidak patut dicontoh”. Namun ternyata masih ada pihak yang secara terang-terangan membela apa yang dilakukan oleh oknum-oknum pejabat ini yang secara gamblang mengungkapkan keengganannya untuk menghormati symbol bangsa yang telah diciptakan sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia oleh soekarno. Front Pembela Islam wilayah Surakarta (FPI) melalui beberapa melalui perwakilannya mendatangi kedua SD tersebut dan menyampaikan pada media mengenai ketidaksetujuannya terhadap ancaman yang akan diberikan bupati karanganyar . FPI bahkan telah menyiapkan tim bantuan Hukum FPI yang berjumlah 19 orang. Tim ini akan memfokuskan untuk membantu kedua SD tersebut dalam proses hokum jika kedua sekolah ini akan menuntut bupati Rina Iriani. Selain itu FPI meminta bupati karanganyar saat ini agar mencabut pernyataannya tentang sanksi yang akan diberikan. Jika dalam 3 kali 24 jam tuntuan dari FPI ini tidak dipenuhi maka mereka akan mengambil tindakan. Sepak terjang FPI memang mengagumkan dalam menyoroti berbagai hal yang menyimpang dari kaidah-kaidah agama, dan tindakan yang mereka gunakan cenderung akan mengasilkan sebuah keputusan yang anarkis dan merugikan salah satu pihak. Melihat pertentangan dan saling tuntut-menuntut dari FPI, akankah berujung anarkis seperti yang sudah-sudah terjadi sebelumnya ? wallahu alam. Indonesia memang bangsa yang besar namun tampaknya hal itu perlu diiringi dengan kebesaran pemikiran dari seluruh elemen bangsa, termasuk dari pegawai negeri maupun pejabat teras lainnya. Benih-benih bangsa tidak seharusnya dicontohkan dengan berbagai hal yang tidak etis menurut etika berkebangsaan ini, tinggal menunggu waktu saja untuk melihat Indonesia akan kembali mengulang sejarah 400 tahun silam untuk kembali terjajah bangsa lain. Walaupun kini belum secara terang-terangan terlihat momentum itu, namun secara implicit jiwa-jiwa kebangsaan kita secara tidak langsung sudah mulai terkikis. Degradasi moral, etika, nasionalisme dan loyalitas kebangsaan yang sudah mulai berkurang adalah salah satu menu utama kunci Indonesia yang akan bertransformasi kembali menjadi bangsa tertinggal.

Advertisements