Harapan dalam Keterbatasan (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)

Pendidikan yang layak adalah impian setiap insan di negeri ini. Kenyamanan  tempat belajar dan sarana pendukung lainnya merupakan syarat mutlak bagi para peserta didik guna mendukung kinerja otak dalam mengolah suatu pelajaran. Sebaliknya, jika tempat tersebut jauh dari kata nyaman maka dapat menghambat peserta didik itu sendiri.

Apa yang terjadi di sebuah SDN Darsono 04 di dusun Gumitir desa Darsono kecamatan Arjasa Jember adalah salah satu ironi tersebut. Tempat ini jauh dari hiruk-pikuk deru mesin perkotaan, tepatnya diatas sebuah bukit yang dikelilingi pegunungan. Butuh waktu sekitar satu jam dari pusat kota Jember untuk mencapai daerah ini dengan mengendarai sepeda motor. Hal ini dikarenakan akses medan yang cukup sulit untuk dilewati mobil.

Setelah anda sampai, rasa lelah akan sirna dilebur oleh pemandangan pegunungan yang eksotis. Namun, jika anda menyusuri jalan setapak menuju sebuah puncak bukit maka anda akan terperangah melihat sebuah sekolah dasar yang berbeda dari sekolah pada umumnya.

Gedung sekolah ini sebagian masih terdiri dari bilik bambu atau gedeg kata orang Jawa, sebagian bangunan kelas telah berbentuk permanen. Hal ini dikarenakan belum turunnya dana dari pihak pemerintah. Sekolah ini masih mengandalkan dana swadaya dari masyarakat sekitar dan orang tua para murid. Ironis memang jika kita bandingkan dengan rencana pembangunan gedung baru DPR-RI yang menelan dana rakyat triliunan rupiah. Selain itu sekolah ini juga belum terpasang aliran listrik serta akses jalan yang masih setapak dan licin pada saat hujan turun. Ini cukup membahayakan bagi para guru maupun siswa yang menuju ke sekolah tersebut. Sementara itu sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah ini masih kurang. Untuk pengadaan buku sekolah ini mengalami kendala karena kurangnya bantuan dari pihak-pihak terkait. Saat ini pengadaan buku masih didapat dari swadaya guru serta bantuan dari sekolah dasar terdekat. Namun itupun belum seberapa mengingat sulitnya medan dan letak yang cukup jauh dari sekolah dasar lain yang tedekat. Ruang kantor SD ini bak sebuah gubuk ditengah bukit, jauh dari standar kantor sekolah pada umumnya. Menurut salah seorang staf pengajar menuturkan, prioritas pembangunan kelas adalah yang utama karena menyangkut kenyamanan peserta didik. Untuk kantor, dewan pengajar masih dapat bertahan dalam ruangan dari bambu itu. Suatu pemikiran yang mulia ditunjukkan oleh para staf pengajar di sekolah ini yang lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan golongan. Sangat bertolak belakang dengan anggota DPR kita yang hanya pandai beretorika pada saat kampanye.

Hal tersebut tidak mematahkan semangat belajar para siswa. Justru mereka semakin bersemangat untuk menggapai hari depan yang cerah. Medan yang berat bukanlah rintangan berarti bagi mereka, walaupun mereka terkadang tanpa memakai sepatu bahkan alas kaki sekalipun. Dari sekolah ini muncul prestasi yang cukup membanggakan. Sekolah ini sering kali memenangkan berbagai perlombaan, terutama dalam cabang atletik. Mungkin karena dipengaruhi medan yang sering mereka taklukkkan setiap hari. Potensi-potensi seperti inilah yang harusnya dikembagkan serta memerlukan perhatian lebih bagi pemerintah kabupaten khususnya dinas pendidikan. Sudah saatnya para pihak terkait untuk lebih peka terhadap permasalhan-permaslahan pendidikan yang ada di daerah-daerah yang terisoir. Distribusi dan kestaraan dalam hal pendidikan adalah suatu yang sangat diimpikan di negeri ini, tanpa memandang latar belakang masyarakat. Baik daerah yang sudah maju maupun tertinggal bahkan terisolir seperti dusun Gumitir-Darsono,kecamatan Arjasa,kabupaten Jember ini.

Dari fakta diatas, muncullah anggapan dalam masyarakat yaitu apakah memang benar sekolah bukan diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah kebawah?. Kalimat bernada satir ini tidak sepenuhnya benar. Keterisolasian tidak harus dipandang sebagai celah untuk menjadi tertinggal dengan yang lain dari sisi masyarakat apabila pemerintah mampu mengelolanya dengan baik sebagai komitmen terhadap konstitusi. Semoga ini dapat menjadi semacam refleksi ke depan bagi pemerintah kita khususnya pemerintah kabupaten Jember serta dinas pendidikan, dan juga bukan hanya menjadi sebuah pepesan kosong semata. Tindakan nyata mutlak diperlukan demi keberlangsungan pembangunan karakter bangsa yang bermartabat melalui jalur pendidikan. (f@n_82)*

Gambar dibawah ini adalah kondisi SDN Darsono 04 yang diambil beberapa waktu lalu :

Kondisi Kantor SD Negeri Darsono 4                       TAMPAK KONDISI KANTOR SD

kondisi dalam kelasKondisi dalam Kelas

Tiang benderaTiang bendera yang masih terbuat dari Bambu

tampak dari jauh keadaan SD Negeri 4 DarsonoTampak dari Jauh keadaan SDN 4 Darsono

semangat anak GunungSemangat anak Gunung

* Liputan : Irfantoni Listiyawan (LPM_PRIMA, FISIP Unej)

Advertisements

2 thoughts on “Harapan dalam Keterbatasan (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s