Sebuah Ironi di Jember

“JemLogo Jemberber Itu Sangat Potensial, Tapi Tidak mampu dimaksimalkan oleh pemerintah setempat” Itulah sedikit kalimat yang terlontar dari masyarakat Jember yang sempat berbincang ringan dengan saya di sebuah warung kopi. Seolah Mengamini pernyataan dari orang tadi, memang banyak sekali hal-hal yang benar-benar di sia-siakan oleh pemerintah setempat. Hal pertama yang membuat saya menggumam tentang kinerja wakil rakyat Jember ini adalah banyaknya pengemis yang berkeliaran di daerah sekitar Tegalboto atau yang lebih dikenal dengan sebutan daerah Kampus. daerah yang dari lalu lintasnya saja sudah banyak berkeliaran mobil-mobil mentereng khas anak muda, kemudian Sepeda motor yang berlomba-lomba pamer kehebatannya, serta adanya Gedung-Gedung tempat aspirasi Rakyat alias DPRD yang sudah berubah fungsi di malam hari menjadi tempat tongkrongan Kopi, Entah bagaimana fungsi gedung itu jika sudah dihuni para pekerjanya di siang hari, apakah berfungsi dengan baik atau hanya menjadi sekedar tempat tongkrongan layaknya DPRD di malam hari, semoga saja tidak.

JFCkembali pada bahasan awal tentang Potensi Jember. Jember sangat terkenal dengan JFC-nya, hasil dari kekayaan intelektual yang di implemetasikan dengan baik itu sudah dapat membawa nama Jember naik daun dan membuat Jember mempunyai nama di dunia Internasional Lewat prestasi-prestasi yang sudah diraih di antaranya : Runner up 1 kategori Best National Costume di Ajang Men Hunt International 2011 di Taiwan, dan The WInners dalam Ajang Mister International 2011 di Jakarta serta di Mister Universe Model Peagent 2011 di Republik Dominica juga akan tampil JFC Tahun ini. akhir bulan ini JFC akan dihelat di Jember, tepatnya tanggal 23-24 Juli. sebagai salah satu acara karnaval terheboh di dunia tentunya acara ini tak luput dari perhatian media lokal maupun luar. Tertarik menyaksikannya ?? hem, itu tadi data dan fakta seputar JFC, lalu mari kita tatap JFC dari sudut pandang lain, JFC memang sudah menghebohkan Dunia tapi apakah JFC ini mempunyai dampak signifikan untuk rakyat Jember secara keseluruhan, jika di analisa lebih jauh ternyata JFC ini hanya membawa nama baik Jember bukan membawa kehidupan Jember kepada yang lebih baik. dan itu seharusnya pihak Pemerintah setempat yang lebih sensitif menangkapnya. Kehebohan JFC hanya bisa membuat kaum-kaum bawah Jember ini terpana dan bengong, seakan-akan hanya menjadi seorang penggembira saja tanpa tahu bagaimana nasib mereka ke depan.

Masih dari potensi pariwisata Jember, kalau anda pergi Ke jember kurang rasanya jika anda tidak mengunjungi pantai watu Ulo dan pantai papuma. dua pantai yang menghadirkan eksotika lautan dengan bebatuannya yang menjulang ini memang sedap jika dipandang mata. tapi sayang dua potensi pariwisata ini lagi-lagi di sia-siakan pemerintah setempat. untuk pengelolaan tiket sebenarnya sudah bagus, tapi kemudian ketika kita sudah menginjakkan kaki di watu ulo pasti kita akan menggumam “Trus duwike tiket iku mau gawe opo nek koyok ngene tok isine, (lalu uang tiket itu tadi buat apa kalau isinya cuma seperti ini)” benar-benar heran, pengawasan tiket yang cukup ketat seperti itu hanya berbalas pemandangan pantai saja tanpa ada fasilitas tambahan di areal wisata tersebut. jangankan fasilitas tambahan, WC pun hampir tidak ada di areal pantai watu ulo, yang ada hanya lautan biru dengan pantainya berpadu dengan pohon-pohon meranggas di pinggirannya. benar-benar bertepuk sebelah tangan jika saya memperhatikan pengelolaan di daerah ini.

Mari kita bandingkan dengan Kondisi di Papuma, sepintas kondisi di pantai ini memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi di watu ulo. adanya warung-warung seafood bakar dengan beberapa villa-villa dan dibangunnya Wahana wisata baru-baru ini membuat pengelolaan papuma jauh lebih unggul dibandingkan watu ulo. namun, ketika kita memperhatikan akses ke kedua daerah wisata ini. Benar-benar membuat saya mengelus dada. di Halaman Web pemkab secara terang-terangan memajang watu ulo dan papuma sebagai salah satu tujuan wisata yang paling sering dikunjungi, tapi pihak pemerintahan tidak segera memperbaiki akses jalan ke kedua daerapantai papumah tersebut. Aspal-aspal berlubang yang semakin banyak, papan nama tujuan papuma yang terlalu sederhana dan tidak sebanding dengan potensi namanya, lalu jalan tanjakan di dalam hutan sebelum papuma yang benar-benar hancur adalah sebuah kecacatan untuk sebuah area wisata yang benar-benar dibanggakan. Seorang wisatawan asing yang sempat ngobrol dengan teman saya bahkan berkata “pantai ini sebenarnya bagus, lebih bersih daripada Kuta (Bali), kenapa tidak dimanfaatkan lebih baik lagi?” benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala lagi. jika tetap seperti ini pengelolaannya, siap-siap saja Jember akan hanya bisa melambaikan tangan kepada daerah Lain yang sudah lebih professional pengelolaannya.

dari sisi perkebunan Jember sudah terlihat dari Logo kabupatennya dengan adanya daun Tembakau yang merepresentasikan bahwa kabupaten jember selain dikenal sebagai gudang pangan, juga dikenal sebagai daerah penghasil komoditi tembakau yang cukup terkenal dan menghasilkan devisa cukup besar bagi negara disamping komoditi perkebunan lainnya. Benarkah demikian …..?? mari kita teliti. pertanyaan saya tentang hal ini, jika Jember memang sudah cukup dikenal akan tembakaunya tapi kenapa tidak ada Produsen Rokok dari Jember yang membahana namanya ?? katakan begini, Jika Kudus punya Djarum dan museum kreteknya dan Surabaya dengan Sampoernanya, kenapa Jember tidak punya produsen Rokok sendiri atau bahkan menciptakan Museum Tembakau seperti yang sudah digagas Kudus untuk lebih memberdayakan kearifan Lokal. sempat terdengar kabar bahwa Jember sudah dikontrak Gudang Garam sebagai tempat produksi, tapi dalam kenyataannya ketika saya bertanya-tanya pada masyarakat lokal di sini jawabannya malah ada yang tidak tahu, meragukan, bahkan tidak pernah tahu sama sekali. benar-benar membuat otak saya penuh dengan pertanyaan lagi tentang Jember. menarik ketika membaca sebuah komen dari warga Jember yang sedang studi di Bandung pada Halaman Web pemkab Jember, salah satu kalimatnya berkata “petani tidak butuh hiburan akan tetapi butuh kesejahteraan”. saya sangat setuju ketika membaca pernyataan ini, rakyat Jember tidak seharusnya membanggakan JFC, BBJ, dsb yang tidak mempunyai implikasi secara nyata terhadap kehidupan masyarakat Jember secara keseluruhan.

dan yang paling membuat saya Jengkel adalah tentang jalur transportasi ke Jember. Bayangkan, untuk bisa menuju Jember hanya ada beberapa wahana transportasi yang bisa ditempuh aksesnya pun hanya bisa melalui jalur darat padahal Jember punya bandara yang sekarang katanya kondisinya masih bagus tapi “terbengkalai” karena pemerintah yang kurang siap menanganinya. Jika kita berangkat dari barat kita bisa numpang menuju Jember dengan kereta Api berbayar. itu adalah satu-satunya alat transportasi yang difavoritkan pengunjung kebanyakan karena Kemurahan dan Kenyamanan transportasi dan memang faktanya infrastruktur transportasi masih prima, mulai dari kondisi stasiun dan kereta api itu sendiri. Berangkat dengan menggunakan Bus …?? ini favorit saya, tapi mayoritas kondisi bus ekonomi yang kurang memadai pasti membuat pengunjung memutar otak untuk menaikinya dan buat yang berkantong tebal pasti lebih memilih bus patas dengan biaya dua kali lipat dar bus ekonomi, tapi biaya itu sepadan dengan pelayanannya memang. Seandainya Bandara Jember itu benar-benar berfungsi optimal, mungkin tinggal menunggu hari saja untuk melihat Jember Hidup lagi. tapi lagi-lagi Rakyat Jember harus berangan-angan semu.

Pemikiran ini hanyalah sebuah keprihatinan saya atas kondisi Jember yang ada sekarang. Masih banyak hal lain yang bisa dikritisi, bisa saya katakan masih sangat banyak dan ini hanya secuil dari kemunduran Jember yang perlahan-lahan semakin jelas terkuak. Sebagai Contoh : Bandara yang terbengkalai, Pembangunan yang dirasakan hanya berpusat di satu daerah yaitu kota jember, kinerja DPRD yang semakin keluar dari trek, dsb. saya memang bukan asli warga Jember tapi merasakan bahwa Jember tidak sepantasnya berada pada Kondisi yang ada sekarang. coba perhatikan daerah Jawa Timur sisi Barat, Kediri, Lamongan, Jombang, Madiun, Malang, Surabaya, masing-masing mempunyai potensi yang benar-benar diasah secara tajam dan menjadi simbol daerah yang benar-benar membuat wisatawan Kagum dan ingin kembali lagi ke daerah tersebut. Semoga saja kritik-kritik di atas dapat menjadi sebuah motivasi bagi para pembaca sekalian untuk menghadirkan Jember yang lebih baik dan berkualitas dari berbagai aspek. (3 word)

“thnks for read”

Advertisements

One thought on “Sebuah Ironi di Jember

  1. mas noeprasetyo yang baik, global saya setuju sekali dengan pendapat anda, sedikit kisah, saya adalah Gus Jember 92 (gus ning jember merupakan pemilihan Duta Wisata yang diadakan Pemkab Jember tiap tahun) mulai dilantik sampai ada pengganti kegiatan yang menggandeng duta wisata ini sangat minim dan penuh dengan slintungan khususnya mengenai dana pembinaan, apalagi dulu, belum ada JFC, yang kita harus akui sudah membawa nama Jember mendunia.
    Kalo kita bisa mencontoh Lamongan, Batu, Kediri dll…..mereka sudah bangkit dari tidur lamanya…Lamongan dengan WBL nya, Batu dengan Jatim I dan II, dan daerah lainnya dengan pembanganannya yang bisa mengangkat point value ekonomi lokalnya, Jember saya lihat belum ada akan hal itu, padahal namanya udah lama kita dengar dengan pantai watu ulonya, tanjung papumannya….dll
    Beberapa hari yang lalu saya pulang kampung ke Jember, dari pinggiran saya lihat perkembangan selama 25 tahun ini sangatlah lamban (kebetulan saya jarang pulang sih) …..bergeser masuk ke kota jember…..memang bisa dilihat perkembangannnya..itupun sangat lamban jika dibanndingkan dengan daerah lainnya, terlihat perekonomian rakyatnya kurang terlihat, lokasi lokasi kurang menyolok…..rasanya mah tidak banyak beda sama yang dulu.
    saya juga memang bukan asli Jember, pindah ke Jember kelas 2 SMP, karena ikut kaka yg ABRI, makanya ketika saya lulus SMA (SMA 2 jember) langkah saya cukup cepat waktu itu untuk segera meninggalkan Jember, karena saya rasa perkembanganaya akan lambat, ternyata prediksi saya tepat sekali, saya ingin sebenarnya ikut membangun kota yang pernah membesarkan saya, tapi untuk menanmkan model disana usaha yang saya geluti masih tidak pas..kurang market bahasa ekonominya,

    saya salut dengan JFC dimana mas Dinanz Fariz sangat inten dan mau berusaha keras untuk membangunkan Jember dari tidurnya, Biarpun lingkungannya masih belum bisa mengikuti alur kerja kerasnya mas Fariz (saya kenal mas Fariz secara personal, karena dia merupakan salah satu guru saya) jember masih lamban masih mengikuti alur lama. capek deh. masih banyak benernya yang mau ditulis, lain waktu deh kita sambung lagi. bila ada pihak yang tersinggung mohon maaf sebelumnnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s