Diplomasi Multilateral berlabel Klub Sepakbola dan FIFA

Fédération Internationale de Football Association atau yang biasa disebut FIFA adalah induk organisasi sepak bola internasional. Organisasi yang berpusat di Zurich, Swiss ini didirikan pada 21 Mei 1904 di Perancis atas prakarsa dari Belgia, Perancis, Belanda, Swedia dan Swiss dengan presiden pertamanya Robert Guérin hingga presiden FIFA saat ini yang dijabat oleh Sepp Blatter.
Sebagai kiblat sepakbola dunia, FIFA mempunyai tujuan tersendiri yaitu to improve the game of football constantly and promote it globally in the light of unfying, educational, cultural, and humanitarian values, particularly through youth and development programmes. Berdasarkan tujuan itu FIFA berupaya untuk menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia melalui slogan for the game for the world serta tiga misi yang dikemas dalam kalimat develop the game, touch the world, and build a better future.
Banyak sekali dinamika yang terjadi dalam internal organisasi ini terutama masalah keanggotaan. Namun semua permasalahan tersebut dapat di atasi melalui adanya statuta FIFA yang mengatur segala mekanisme kerja organisasi ini mulai dari yang tertinggi sampai yang terbawah. Dengan adanya statute FIFA ini pun membuat asas non-intervention dari pemerintahan dipegang teguh.
FIFA menerapkan sanksi-sanksi tegas terhadap Negara-negara anggotanya apabila pemerintahan mereka terbukti telah mengintervensi segala kebijakan yang dibuat organisasi sepakbola yang masih menjadi anggota FIFA tersebut. Nigeria adalah salah satu dari beberapa contoh penerapan sanksi dari FIFA atas intervensi pemerintah dimana pada saat itu pada tanggal 15 Mei 2009, FIFA mempertimbangkan untuk mencoret keanggotaan Asosiasi Sepakbola Nigeria (NFA) karena campur tangan Menteri Olahraga Nigeria terhadap NFA. NFA tidak hanya sekali diancam akan dicoret keanggotaannya dalam FIFA, pasca piala dunia 2010 NAF juga diancam dicoret oleh FIFA karena kegagalan mendapat hasil yang maksimal di Piala Dunia 2010 yang mengundang Presiden Nigeria Goodluck Jonathan untuk melakukan intervensi terhadap NFA dengan melarang tim nasional Nigeria tampil dalam kompetisi sepakbola Internasional selama dua tahun.
Bukan hanya Negara-negara semenjana saja yang terkena pukulan sanksi dari FIFA ini. Ternyata dalam track recordnya FIFA pun pernah memberikan sanksi kepada Negara besar sekaliber Inggris sekalipun. Ancaman intervensi yang akan dilakukan oleh David Amnes atas independensi pengelolaan sepakbola yang dilakukan oleh politisi membuat FIFA bergerak untuk memantau asosiasi sepakbola Inggris (FA) bahkan FIFA mengancam akan mencoret keanggotaan FA dalam FIFA apabila terbukti terdapat intervensi pemerintah dalam FA.
Cara FIFA menerapkan sanksi ini bukanlah tanpa dasar. FIFA menerapkan sanksi-sanksi ini untuk memberi suasana yang kondusif dalam keanggotaan FIFA karena pada dasarnya focus point dari FIFA ini sendiri adalah adanya kerjasama dan nuansa persahabatan yang dijalin oleh para anggotanya dalam menjalankan agenda FIFA dimana ketika semua agenda FIFA itu berjalan lancar maka benefit yang diharapkan FIFA pun akan tercapai dan keseluruhan kebutuhan yang dibutuhkan Negara anggota FIFA dapat terpenuhi. Beberapa kebutuhan Negara anggota itu adalah subsidi penyelenggaraan kompetisi nasional maupun regional kawasan tersebut maupun subsidi infrastruktur yang mendukung perhelatan sepakbola itu sendiri.
Perlu diketahui juga bahwa selain mempunyai jumlah anggota yang sangat besar, secara finansial organisasi FIFA juga sangat kuat dan kaya. Dalam laporan keuangan yang dirilis tahun 2008, kekayaan FIFA sebesar USD 184.000.000, dan equity development FIFA tahun 2008 yang sangat mmenarik dimana revenue sebesar USD 957.000.000, expenses sebesar 773.000.000 dan result sebesar USD 184.000.000.
Secara jelas dapat dikatakan di sini bahwa FIFA merupakan salah satu Organisasi Internasional terkaya yang sanggup mewujudkan adanya saling kerjasama antar anggotanya dalam menyelenggarakan sebuah event sepakbola yang dipayungi oleh FIFA itu sendiri. Secara global FIFA tidak bekerja sendiri, melainkan sudah terdapat beberapa komunitas regional yang memayungi beberapa federasi sepakbola wilayah tersebut tapi tetap berdiri di bawah FIFA sebagai organisasi tertinggi. Beberapa diantaranya adalah CONMEBOL (Amerika Selatan), CONCACAF (Amerika Tengah dan Amerika Utara), AFC (Asia), CAF (Afrika), OFC (Oceania), dan UEFA (Eropa).
Hegemoni dan superioritas FIFA memang merupakan salah satu keunggulan organisasi ini dalam menyelenggarakan event-event besar seperti Piala Dunia yang merupakan ajang untuk mewujudkan kerjasama Multilateral baik dalam bidang olahraga maupun perekonomian. Melalui penjualan tiket, penjualan hak siar, sponsor dan sebagainya, FIFA pada akhirnya mampu untuk membangun identitasnya sebagai organisasi pemersatu Negara-negara dalam berbagai kerjasama yang terfokus pada sepakbola.
Dalam even-even besar yang digelar FIFA, hampir semuanya telah dapat merealisasikan kerjasama multilateral dalam berbagai aspek yang sangat menguntungkan tuan rumah dari even dan beberapa Negara yang dekat dengan wilayah tuan rumah. Penyelenggaraan putaran final Piala Dunia sebagai even terakbar FIFA pun selalu memberikan sumbangan yang signifikan bagi laju pertumbuhan ekonomi Negara tempat penyelenggara. Piala Dunia Jerman yang diadakan pada tahun 2006 lalu menghasilkan pertumbuhan ekonomi Jerman sebesar 1,6%. Pada akhir turnamen target pertumbuhan itu direvisi menjadi 2,3% yang ternyata setelah Piala Dunia 2006 dilaksanakan realisasi pertumbuhan PDB Jerman mencapai 3,2%. Secara keseluruhan Piala Dunia 2006 di Jerman menghasilkan keuntungan sebesar Rp 28 Triliun bagi FIFA, yang sebagian dari keuntungan itu dihasilkan dari penjualan hak siar televisi dan penjualan pemasaran logo Piala Dunia.
Perhelatan piala dunia yang dilaksanakan di Afrika Selatan pun juga memberikan dampak yang sama seperti yang dialami oleh Jerman terhadap kondisi perekonomian di Afrika Selatan. Even yang digelar mulai tanggal 11 Juni sampai 11 Juli 2010 memberikan keuntungan tersendiri bagi tuan rumah dimana pada saat itu Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma mengumumkan bahwa pemerintahannya mendapatkan profit dari sebesar 33 miliar rand (setara Rp 38,6 Triliun) yang diinvestasikan dalam bentuk infrastruktur transportasi, telekomunikasi dan pembangunan stadion. Penghasilan dari World Cup Afrika memang merupakan lonjakan tertinggi dalam sejarah FIFA. Di luar event seperti itu, dari tahun ke tahun FIFA mengalami lonjakan pendapatan. Laporan Komite Audit Internal FIFA menunjukkan, tahun 2009 FIFA meraup pendapatan sebesar 1.059 juta dolar AS (setara dengan Rp 9,8 triliun), masing-masing 650 juta dolar dari penjualan hak siaran TV, 227 juta dolar dari pemasaran tiket, dan 22 juta dolar dari merek lisensi FIFA. Tahun sebelumnya pendapatan FIFA hanya sebesar 957 juta dolar AS. Total pembelanjaan 2009 sebesar 863 dolar, dengan keuntungan bersih sebesar 196 juta atau setara Rp 181,3 miliar . Pada tahun yang sama nilai modal atau ekuitas FIFA pun sudah mencapai sebesar 1,061 juta dolar AS (FIFA Financial Report 2009).
Kerjasama yang dijalin FIFA tidak hanya terfokus pada kompetisi antar Negara seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Asia, dan sebagainya. FIFA juga membentuk kerjasama dengan Negara-negara yang lebih banyak dalam taraf klub dimana ke semua klub itu dipersatukan dalam sebuah kompetisi regional semacam UEFA Champions League, UEFA Europa League, AFC Cup, Copa Libertadores, Gold Cup, dan sebagainya yang kemudian di antara para juara-juara di antara kompetisi tersebut dikumpulkan lagi dalam sebuah kompetisi antar klub Internasional yang dinamai FIFA Club World Cup yang diadakan setiap tahun. Intensitas pertemuan yang dihasilkan para klub-klub dalam FIFA Club World Cup ini tentunya akan membuat ketertarikan tertentu dari pihak-pihak sponsor tertentu yang biasanya berlabel Multi National Corporation atau MNC.
Sumber dana sebuah klub-klub yang berafiliasi kepemilikan individu pastilah bergantung pada seberapa besar sponsor ingin mendanai mereka selain Pendapatan tiket maupun merchandise yang jadi pendapatan wajib mereka. Di klub-klub besar Eropa, tidaklah sulit untuk mendapatkan pendapatan yang ingin mereka capai. Selain karena faktor popularitas dan jangkauan global yang sudah terbentuk, mereka mempunyai citra tersendiri di mata sponsor sehingga banyak di antara MNC dari luar Eropa yang bersedia untuk mendanai klub-klub tersebut. Sebut saja Manchester United klub asal Britania Raya yang baru saja meneken kontrak dengan DHL sebuah perusahaan yang berkonsentrasi pada bidang jasa pengiriman. Pundi-pundi uang klub ini akan semakin bertambah lantaran bukan hanya bantuan pengiriman logistik saja yang disodorkan tetapi juga bantuan dana sebesar 40 juta pounds (Rp 563 miliar) dengan durasi kontrak selama empat tahun. Kemudian Barcelona klub asal Catalan Spanyol yang menjalin kerjasama dengan salah satu anak organisasi PBB yaitu Unicef. Fenomena kerjasama yang dialami Barcelona agak sedikit berbeda dengan apa yang dilakukan klub-klub lain. Perbedaannya adalah jika klub-klub lain biasanya memasang sponsor utama yang mendanai mereka pada jersey atau kaos mereka tetapi jika Barcelona lebih memilih Unicef sebagai logo yang ditampilkan di jersey mereka karena mereka telah berkontribusi dalam menyalurkan sumbangan kepada Unicef setiap tahun.
Ternyata bukan hanya sponsor yang berminat terhadap klub-klub yang sudah populer di eropa dan sudah mempunyai nama besar serta berprestasi besar di wilayahnya. Ternyata fenomena klub-klub eropa ini juga mengundang para investor untuk bergerilya menanamkan saham di klubnya masing-masing atau menguasai saham mayoritas klub untuk dapat menjadi owner dari klub-klub tersebut. Inilah salah bentuk kerjasama multilateral yang dihasilkan dari system kompetisi yang telah diciptakan oleh FIFA dengan dasar-dasar dan prosedurnya dalam statuta FIFA.
Beberapa di antara Investor asing di klub-klub besar Eropa adalah Roman Abramovich, seorang pengusaha minyak asal Rusia yang mengakuisisi Chelsea dan memegang sebagian besar saham Chelsea pada tahun 2003 dan membangun timnya perlahan hingga besar seperti sekarang yang mempunyai jangkauan global ke seluruh dunia. Investor berikutnya adalah Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan, Milyarder asal Abu Dhabi yang mengakuisisi Klub Inggris yaitu Manchester City. Mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra juga pernah mengakuisisi klub ini sebelum akhirnya digantikan oleh Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan.
Jadi, pada dasarnya Sepakbola juga dapat dijadikan sebagai media diplomasi yang berguna untuk mengembangkan sistem perekonomian suatu Negara. Dalam beberapa kasus para pemain Sepakbola juga mempunyai peranan penting dalam mewujudkan suasana aman dan kondusif di dalam dunia Internasional. Para pemain ini seringkali menjadi duta dalam acara sosial kemanusiaan.
Untuk mendukung terwujudnya sebuah kesejahteraan umum, sudah selayaknya Negara-negara harus terus-menerus melakukan revitalisasi dan menemukan cara yang inovatif dalam mewujudkan itu semua. Salah satu cara yang paling inovatif adalah memberikan dukungan policy, pendanaan pembangunan infrastruktur yang cukup, serta jaminan perizinan bagi penyelenggaraan kompetisi sepakbola professional yang kini menjadi suatu tren global dan mampu mendorong lahirnya ekonomi baru di seluruh lini masyarakat sekaligus menciptakan perdamaian mondial melalui Sepakbola itu sendiri.

Daftar Pustaka :

DAFTAR PUSTAKA

Pandjaitan, Hinca IP. 2011. Kedaulatan Negara Versus Kedaulatan FIFA, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama

Sumber lain :

http://www.un.org/News/Press/docs/2006/org1469.doc.htm

 

http://politik.kompasiana.com/2010/04/21/diplomasi-publik-indonesia-1/

 

http://agenbola368bet.biz/sejarah-fifa-dan-hubungannya-dengan-indonesia.html

http://berdikarionline.com/olah-raga/20110714/sepakbola-rakyat-pssi-dan-hegemoni-fifa.html

http://bola.inilah.com/read/detail/1768179/mu-jalin-kerjasama-dengan-dhl

http://www.bola.net/spanyol/sheikh-mansour-ingin-akuisisi-madrid.html

 

Advertisements