ASIA : the new emerging power of the world

Asia Memang tidak ada yang tak mungkin untuk merubah dunia, mungkin itulah sedikit ungkapan yang pantas untuk mengapresiasi perjuangan bangsa  Asia dalam merubah dunia yang selama berpuluh-puluh tahun selalu identik dengan kekuatan bangsa Amerika dan Uni Eropa. Bangsa Asia kini sedang menggeliat menjadi salah satu kekuatan yang harus diperhitungkan oleh dunia mengingat benua ini mulai menunjukkan sebuah pola perkembangan yang progresif yang membuat bangsa-bangsa  Amerika dan Uni Eropa harus mawas diri terhadap kekuatan baru ini. Krisis yang tak kunjung reda yang dihadapi oleh Amerika dan Uni Eropa membuat peluang pergeseran pendulum perekonomian dunia tidak dapat lagi terhindarkan mengingat sampai saat ini Negara-negara Asia terus menunjukkan sebuah ancaman bagi hegemoni Amerika dan Uni Eropa dalam perekonomian dunia.

                Trend pertumbuhan ekonomi China yang sanggup mencapai 10% diprediksi oleh banyak pakar ekonomi dunia dapat menggeser kekuatan Amerika sebagai sebagai kekuatan ekonomi global pada tahun 2030. Ini dapat dijadikan sebuah alasan bahwa pertumbuhan ekonomi china menunjukkan fenomena yang di luar dugaan. Hal ini bukanlah tanpa alasan mengingat saat ini China sedang on-fire untuk menjalin kerjasama multi maupun bilateral dengan Negara-negara lain. Asean pun yang dianggap sebagai salah satu kawasan yang mewakili kekuatan Asia sudah berada dalam genggaman China mengingat saat ini Asean sudah bersemboyan 11+1=>11 yang artinya kesebelas Negara Asean ditambah dengan satu kekuatan China akan menghasilkan kekuatan yang lebih hebat dari Asean dan China itu sendiri. China juga telah menjalin perdagangan bebas dengan Asean yang menandakan bahwa antara Asean dan China dapat bersaing secara sehat dalam persaingan ekonomi global yang diratifikasi dalam bentuk CAFTA (China – Asean Free Trade Area). Bahkan berdasarkan data yang dirilis pada medio januari hingga September 2011 Impor China dari Asean telah mengalami peningkatan sebesar 27,9% menjadi usd 143 miliar sehingga dari data tersebut sangatlah tampak jika CAFTA telah meningkatkan daya saing internasional ASEAN dengan volume ekspor ke China. Bukan hanya China saja yang sedang berjaya dewasa ini, tapi India (9% economic development), Singapura, Jepang, dan Korea bahkan Indonesia (6,5% economic development) juga sudah mencatatkan beberapa prestasi yang dapat meyakinkan publik dunia bahwa bangsa Asia sedang meretas kejayaan untuk merajai dunia. Seperti kata Kishore Mahbubani dalam bukunya “New Asian Hemisphere” yang mengaskan bahwa Asia adalah hemisfer baru dunia yang harus diperhitungkan dunia.

Prestasi tidak hanya dihasilkan dari poros ASEAN-CHINA-JEPANG-KOREA-INDIA tapi juga diluar itu. Timur tengah yang juga sebagiannya dimiliki benua Asia juga mencatatkan diri sebagai Negara dengan Pendapatan Nasional yang mentereng yang dihasilkan dari produksi minyaknya yang melimpah ruah yang juga ingin dikuasai oleh Amerika. Tercatat Negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain mampu untuk mewujudkan pencapaian ekonominya dengan baik. Hal ini pun turut mengundang ketertarikan Investor untuk menanamkan modalnya di ranah timur tengah ini. Salah satu hasilnya adalah mulai adanya event internasional yang sangat diminati public dunia yaitu pagelaran Formula 1 yang sudah beberapa tahun terakhir diadakan di Uni Emirat Arab dan Bahrain selain di Negara-negara Asia lainnya yang sudah terlebih dulu menggelarnya yaitu Singapura, Malaysia, China, Jepang dan India yang sebentar lagi juga akan segera menggelarnya. Bagaimana dengan Indonesia ? yah tunggulah sampai konflik birokrasi dan kepartaian berakhir dulu.

                Menyadari akan beberapa hal ini Amerika Serikat mulai mengambil beberapa langkah yang rasanya tetap saja tidak secepat apa yang sudah dilakukan China. Alasan hegemoni dan gengsi adalah faktor utama Amerika Serikat mengambil tindakan-tindakan. Trans Pasific Partnership yang menjadi cikal bakal perdagangan bebas Asia-pasific dengan Amerika Serikat adalah salah satu tindakan yang diambil AS untuk meredam kekhawatiran akan agresifitas China dalam menjalin Free Trade Area.

Geo-politik Asia yang sebelumnya berporos kepada Amerika Serikat dan Uni Eropa perlahan membuat kedua kawasan ini perlu untuk merevitalisasi relasi dengan kawasan Asia Pasifik yang memang pada faktanya saat ini mulai didominasi China. Alasan merevitalisasi ini perlu dilakukan Amerika Serikat mengingat saat ini pasar di Eropa sedang melemah lantaran krisis yang tidak kunjung usai melanda kawasan ini. Hal ini membuat Amerika mau tidak mau harus mengalihkan perhatiannya dari kawasan ini mengingat krisis yang diawali dari kebangkrutan Yunani ini sudah memberikan efek domino terhadap Negara – Negara Eropa lain seperti Portugal, Spanyol, dan kemudian merambah ke Italia yang memaksa Perdana Menteri saat itu Silvio Berlusconi untuk lengser dari jabatannya. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan dengan para kreditornya yaitu Rusia, Jepang, dan China, terkait utang sebesar US$ 14.3 trilyun yang sebagian diantaranya jatuh tempo pada 2 Agustus 2011. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, AS tidak membayar utang yang jatuh tempo tersebut menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan utang lagi, yaitu sebesar US$ 2.1 trilyun. Utang inilah yang pada akhirnya nanti dapat menjadi titik balik Amerika Serikat mengingat saat ini Negara yang terkenal dengan Patung Liberty ini juga sedang mengalami lonjakan pengangguran yang mencapai 9%.

 Keberhasilan AS menjadi negara adidaya pada saat ini, salah satunya adalah karena gencarnya kegiatan percepatan pembangunan, dengan mengandalkan utang. Namun di masa lalu, AS pernah beberapa kali gagal dalam membayar utang, baik utang pemerintahnya maupun akumulasi dari utang-utang warganya, yang berlanjut pada krisis finansial besar-besaran.

                Dengan rata – rata pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka lebih dari 5% yang dicapai oleh Negara – Negara Asia bukan mustahil rasanya untuk mematahkan hegemoni Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam perekonomian global mengingat kedua kawasan ini masih terjerat krisis berkepanjangan. Namun ada kabar baik bagi Amerika Serikat dimana biasanya krisis tidak akan terjadi selamanya, dan hanya soal waktu saja sebelum keadaan menjadi normal kembali. Dan juga ada kabar buruk bagi China yang memiliki perkembangan ekonomi luar biasa. Kabar itu adalah pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat, yang bahkan terkadang diiringi dengan euphoria akan dapat menyebabkan krisis ekonomi jika pertumbuhan tersebut tidak ditopang oleh sektor riil dan makro fundamental. Dan rata – rata jarang terjadi sebuah krisis tanpa diawali oleh kondisi finansial yang super-kondusif terlebih dahulu. Jadi, tinggal menunggu waktu saja bagi Asia sebagai Hemisfer baru dunia untuk dapat menaklukkan hegemoni Amerika Serikat dan Uni Eropa atau sebaliknya Asia justru terjebak krisisnya sendiri yang diakibatkan oleh pertumbuhan ekonominya yang terlalu cepat. (noe)

Advertisements