Paradoksal Partai Politik di Indonesia (Mesin Uang Baru)

Tiada gading yang tak retak, mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi perpolitikan Indonesia dari masa ke masa. Dari presiden ke presiden begitu banyak permasalahan yang mempengaruhi konstelasi politik di dalam negeri mulai dari era Soekarno, Soeharto hingga sekarang yang diduduki SBY. Permasalahan tersebut ada bukanlah tanpa factor, permasalahan tersebut lahir dari berbagai kepentingan yang ingin mengkonstruk tatanan system pemerintahan yang ada demi kepentingan kalangan-kalangan tertentu. Inilah yang menyebabkan kapabilitas responsive system politik Indonesia mulai dinilai sebagai kapabilitas system politik yang terburuk di antara yang lain. Kapabilitas responsive yang merupakan kapabilitas yang merujuk pada kemampuan system politik untuk menangkap tuntutan-tuntutan yang berasal dari lingkungan domestic dan internasional adalah salah satu konten yang sangat penting kehadirannya dalam system birokrasi di Indonesia dimana melalui Kapabilitas responsive ini masyarakat dapat membuat input kepada institusi pemerintahan agar dapat membuat kebijakan yang lebih berorientasi kepada masyarakat luas bukan masyarakat golongan. Jika kapabilitas responsive ini sangat rapuh prakteknya seperti yang tercermin pada era kepemimpinan soeharto yang dimana tidak ada implementasi sama sekali dari kapabilitas responsive ini. Gaya kepemimpinan Soeharto pun cenderung lebih memfokuskan diri pada rezim kekuasaanya daripada memfokuskan diri pada system politik yang lebih responsive terhadap rakyatnya sehingga hal ini menimbulkan stigmatisasi bahwa rezim pemerintahan Soeharto adalah rezim pemerintahan yang jauh dari prinsip dasar demokrasi dimana semua rakyat bebas untuk berpendapat dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Pada era reformasi kapabilitas responsive ini sedikit mengalami progress yang baik dimana system otoritarianisme ala Soeharto perlahan mulai tereduksi hingga melahirkan Pemilihan Umum Presiden secara langsung untuk pertama kali sebagai esensi dari Real-Demokrasi yang dianut oleh Indonesia. Pemilihan Umum Presiden langsung untuk pertama kali ini akhirnya dimenangkan oleh KH. Abdurrahman Wahid dalam proses pemilihan yang benar-benar Murni tanpa intrik-intrik politik.

Beberapa Bendera Partai Politik

Berbeda dengan Pemilu-pemilu selanjutnya dimana dalam prosesnya selalu diwarnai dengan intrik politik untuk menjatuhkan golongan satu dengan golongan yang lain seperti yang tercermin ketika lengsernya KH. Abdurrahman Wahid dari kursi kepresidenan karena skandal Buloggate dan Bruneigate yang skandal ini ditengarai merupakan strategi partai-partai politik untuk dapat menjatuhkan Gus Dur sebagai presiden. Inilah yang menjadi salah satu penyebab menurunnya kapabilitas responsive dari pemerintahan yang diakibatkan banyak kalangan dari birokrat ini lebih sibuk untuk menyelesaikan urusan partai mereka. Sebagai contoh, dewasa ini partai yang sedang menguasasi konstelasi politik di Indonesia yaitu partai Demokrat sedang diterjang isu korupsi yang dilakukan oleh para kader-kadernya sehingga mau tidak mau para birokrat yang berasal dari partai ini pun bergerilya untuk menyelesaikan masalah ini dengan mengesampingkan tujuan utama mereka yaitu merespon input dari masyarakat untuk dijadikan sebuah kebijakan yang berorientasi kepada rakyat. Intrik-Intrik politik kotor yang sering menghinggapi praktek politis birokratif di Indonesia inilah yang seringkali menjadi salah satu penyebab sulitnya mengkonsolidasikan demokrasi di Indonesia dimana partai-partai politik yang notabene merupakan salah satu pilar demokrasi yang menjadi tempat input masyarakat justru terjerembab ke dalam virus yang bernama penyakit kekuasaan yang kronis dan perubahan paradigma partai yang semula sebagai tempat aspirasi rakyat kini berubah menjadi lahan untuk mengumpulkan uang. Partai-partai politik yang seharusnya solid untuk meperjuangkan aspirasi kekuasaan pun juga masih terjebak dalam dualism partai atau konflik internal partai seperti yang terjadi dalam tubuh Partai Kebangkitan Bangsa yang terpecah menjadi dua golongan yaitu golongan Muhaimin Iskandar dan golongan Gus Dur padahal kedua golongan ini berasal dari suatu keluarga. Lagi-lagi suara-suara rakyat tergadaikan oleh kepentingan-kepentingan partai, suara-suara yang harusnya bisa jadi input pembangunan oleh perwakilan partai-partai politik dalam cabinet ini justru menjadi jurang degradasi bagi prestasi partai politik. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu hal yang sangat mempengaruhi partisipasi aktif masyarakat dalam berpolitik dalah partai politik sebagai salah satu lembaga yang mempunyai kewenangan dalam menghimpun aspirasi rakyat. Namun dewasa ini partai politik sudah terkesan out of track dimana track yang seharusnya mereka berada dalam jalur pemenuhan aspirasi rakyat yang disampaikan kepada perwakilan mereka dalam kabinet namun esensi mereka kini perlahan berubah menjadi bagaimana caranya kekuasaan itu bisa didapatkan dan arus dana tetap mengalir dalam kas partai yang dapat dikatakan posisi partai politik kini sudah berubah menjadi suatu alat untuk mencari penghasilan. Paradigma-paradigma ini pun bisa dikatakan sebagai salah satu factor kemerosotan parpol dalam menunjang pembangunan. Tidak sedikit politisi-politisi muda maupun senior yang terjerat korupsi dan itu terjadi hampir di seluruh partai politik. Mulai dari kasus Nazarudin dari partai democrat, Kasus Muhaimin Iskandar dari partai kebangkitan bangsa, dan kasus-kasus lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Sebagai salah satu pilar dari demokrasi peranan partai politik ini sangat vital dalam pemerintahan, posisi-posisi strategis dalam Negara pasti akan dipegang oleh kalangan partai dan sedikit yang diambil dari kalangan independen karena proses koalisi dan oposisi kepartaian ini akan berdampak pada konsolidasi partai dalam cabinet. Oleh Karena itubukanlah rakyat yang membuat citra partai politik itu buruk di mata masyarakat melainkan kosnep dan tujuan mereka sekarang yang membuat citra mereka perlahan menurun di mata masyarakat.

KESIMPULAN

Secara eksplisit era reformasi memang telah menghidupkan partisipasi aktif dalam masyarakat yang dulunya begitu begitu dikekang kini diberi kebebasan sesuai kadar Hukum dan HAM untuk berpartisipasi aktif dalam berpolitik. Namun semua itu hendaknya kembali pada jalurnya yaitu mengutamakan kepentingan bangsa di atas segala-galanya termasuk di atas kepentingan partai. Apa yang terjadi di Indonesia sebenarnya hanyalah kesalahan system dan kondisi yang memaksa para kontestan politik ini untuk bisa survive menghadapi gejolak-gejolak politik yang arusnya selalu ingin menghancurkan satu sama lain. Koalisi ataupun oposisi dalam cabinet adalah lawan yang harus diwaspadai dalam kondisi perpolitikan di Negara ini. Rivalitas inilah yang seringkali menghambat pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat. Buruknya kapabilitas responsive pemerintah juga ditengarai akibat rivalitas politik ini yang mengakibatkan tidak terciptanya soliditas dalam tubuh lembaga-lembaga penyalur aspirasi rakyat ini. Oleh karena itu sudah saatnya pemilihan umum yang akan datang di 2014 dijadikan ajang pembuktian para kontestan politik untuk merubah stigma mereka yang berbasis partai menjadi berbasis kerakyatan sehingga institusi-institusi pemerintahan ini dapat merespon segala keluhan masyarakat menjadi kebijakan yang pro-rakyat.

Advertisements

Diplomasi Multilateral berlabel Klub Sepakbola dan FIFA

Fédération Internationale de Football Association atau yang biasa disebut FIFA adalah induk organisasi sepak bola internasional. Organisasi yang berpusat di Zurich, Swiss ini didirikan pada 21 Mei 1904 di Perancis atas prakarsa dari Belgia, Perancis, Belanda, Swedia dan Swiss dengan presiden pertamanya Robert Guérin hingga presiden FIFA saat ini yang dijabat oleh Sepp Blatter.
Sebagai kiblat sepakbola dunia, FIFA mempunyai tujuan tersendiri yaitu to improve the game of football constantly and promote it globally in the light of unfying, educational, cultural, and humanitarian values, particularly through youth and development programmes. Berdasarkan tujuan itu FIFA berupaya untuk menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia melalui slogan for the game for the world serta tiga misi yang dikemas dalam kalimat develop the game, touch the world, and build a better future.
Banyak sekali dinamika yang terjadi dalam internal organisasi ini terutama masalah keanggotaan. Namun semua permasalahan tersebut dapat di atasi melalui adanya statuta FIFA yang mengatur segala mekanisme kerja organisasi ini mulai dari yang tertinggi sampai yang terbawah. Dengan adanya statute FIFA ini pun membuat asas non-intervention dari pemerintahan dipegang teguh.
FIFA menerapkan sanksi-sanksi tegas terhadap Negara-negara anggotanya apabila pemerintahan mereka terbukti telah mengintervensi segala kebijakan yang dibuat organisasi sepakbola yang masih menjadi anggota FIFA tersebut. Nigeria adalah salah satu dari beberapa contoh penerapan sanksi dari FIFA atas intervensi pemerintah dimana pada saat itu pada tanggal 15 Mei 2009, FIFA mempertimbangkan untuk mencoret keanggotaan Asosiasi Sepakbola Nigeria (NFA) karena campur tangan Menteri Olahraga Nigeria terhadap NFA. NFA tidak hanya sekali diancam akan dicoret keanggotaannya dalam FIFA, pasca piala dunia 2010 NAF juga diancam dicoret oleh FIFA karena kegagalan mendapat hasil yang maksimal di Piala Dunia 2010 yang mengundang Presiden Nigeria Goodluck Jonathan untuk melakukan intervensi terhadap NFA dengan melarang tim nasional Nigeria tampil dalam kompetisi sepakbola Internasional selama dua tahun.
Bukan hanya Negara-negara semenjana saja yang terkena pukulan sanksi dari FIFA ini. Ternyata dalam track recordnya FIFA pun pernah memberikan sanksi kepada Negara besar sekaliber Inggris sekalipun. Ancaman intervensi yang akan dilakukan oleh David Amnes atas independensi pengelolaan sepakbola yang dilakukan oleh politisi membuat FIFA bergerak untuk memantau asosiasi sepakbola Inggris (FA) bahkan FIFA mengancam akan mencoret keanggotaan FA dalam FIFA apabila terbukti terdapat intervensi pemerintah dalam FA.
Cara FIFA menerapkan sanksi ini bukanlah tanpa dasar. FIFA menerapkan sanksi-sanksi ini untuk memberi suasana yang kondusif dalam keanggotaan FIFA karena pada dasarnya focus point dari FIFA ini sendiri adalah adanya kerjasama dan nuansa persahabatan yang dijalin oleh para anggotanya dalam menjalankan agenda FIFA dimana ketika semua agenda FIFA itu berjalan lancar maka benefit yang diharapkan FIFA pun akan tercapai dan keseluruhan kebutuhan yang dibutuhkan Negara anggota FIFA dapat terpenuhi. Beberapa kebutuhan Negara anggota itu adalah subsidi penyelenggaraan kompetisi nasional maupun regional kawasan tersebut maupun subsidi infrastruktur yang mendukung perhelatan sepakbola itu sendiri.
Perlu diketahui juga bahwa selain mempunyai jumlah anggota yang sangat besar, secara finansial organisasi FIFA juga sangat kuat dan kaya. Dalam laporan keuangan yang dirilis tahun 2008, kekayaan FIFA sebesar USD 184.000.000, dan equity development FIFA tahun 2008 yang sangat mmenarik dimana revenue sebesar USD 957.000.000, expenses sebesar 773.000.000 dan result sebesar USD 184.000.000.
Secara jelas dapat dikatakan di sini bahwa FIFA merupakan salah satu Organisasi Internasional terkaya yang sanggup mewujudkan adanya saling kerjasama antar anggotanya dalam menyelenggarakan sebuah event sepakbola yang dipayungi oleh FIFA itu sendiri. Secara global FIFA tidak bekerja sendiri, melainkan sudah terdapat beberapa komunitas regional yang memayungi beberapa federasi sepakbola wilayah tersebut tapi tetap berdiri di bawah FIFA sebagai organisasi tertinggi. Beberapa diantaranya adalah CONMEBOL (Amerika Selatan), CONCACAF (Amerika Tengah dan Amerika Utara), AFC (Asia), CAF (Afrika), OFC (Oceania), dan UEFA (Eropa).
Hegemoni dan superioritas FIFA memang merupakan salah satu keunggulan organisasi ini dalam menyelenggarakan event-event besar seperti Piala Dunia yang merupakan ajang untuk mewujudkan kerjasama Multilateral baik dalam bidang olahraga maupun perekonomian. Melalui penjualan tiket, penjualan hak siar, sponsor dan sebagainya, FIFA pada akhirnya mampu untuk membangun identitasnya sebagai organisasi pemersatu Negara-negara dalam berbagai kerjasama yang terfokus pada sepakbola.
Dalam even-even besar yang digelar FIFA, hampir semuanya telah dapat merealisasikan kerjasama multilateral dalam berbagai aspek yang sangat menguntungkan tuan rumah dari even dan beberapa Negara yang dekat dengan wilayah tuan rumah. Penyelenggaraan putaran final Piala Dunia sebagai even terakbar FIFA pun selalu memberikan sumbangan yang signifikan bagi laju pertumbuhan ekonomi Negara tempat penyelenggara. Piala Dunia Jerman yang diadakan pada tahun 2006 lalu menghasilkan pertumbuhan ekonomi Jerman sebesar 1,6%. Pada akhir turnamen target pertumbuhan itu direvisi menjadi 2,3% yang ternyata setelah Piala Dunia 2006 dilaksanakan realisasi pertumbuhan PDB Jerman mencapai 3,2%. Secara keseluruhan Piala Dunia 2006 di Jerman menghasilkan keuntungan sebesar Rp 28 Triliun bagi FIFA, yang sebagian dari keuntungan itu dihasilkan dari penjualan hak siar televisi dan penjualan pemasaran logo Piala Dunia.
Perhelatan piala dunia yang dilaksanakan di Afrika Selatan pun juga memberikan dampak yang sama seperti yang dialami oleh Jerman terhadap kondisi perekonomian di Afrika Selatan. Even yang digelar mulai tanggal 11 Juni sampai 11 Juli 2010 memberikan keuntungan tersendiri bagi tuan rumah dimana pada saat itu Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma mengumumkan bahwa pemerintahannya mendapatkan profit dari sebesar 33 miliar rand (setara Rp 38,6 Triliun) yang diinvestasikan dalam bentuk infrastruktur transportasi, telekomunikasi dan pembangunan stadion. Penghasilan dari World Cup Afrika memang merupakan lonjakan tertinggi dalam sejarah FIFA. Di luar event seperti itu, dari tahun ke tahun FIFA mengalami lonjakan pendapatan. Laporan Komite Audit Internal FIFA menunjukkan, tahun 2009 FIFA meraup pendapatan sebesar 1.059 juta dolar AS (setara dengan Rp 9,8 triliun), masing-masing 650 juta dolar dari penjualan hak siaran TV, 227 juta dolar dari pemasaran tiket, dan 22 juta dolar dari merek lisensi FIFA. Tahun sebelumnya pendapatan FIFA hanya sebesar 957 juta dolar AS. Total pembelanjaan 2009 sebesar 863 dolar, dengan keuntungan bersih sebesar 196 juta atau setara Rp 181,3 miliar . Pada tahun yang sama nilai modal atau ekuitas FIFA pun sudah mencapai sebesar 1,061 juta dolar AS (FIFA Financial Report 2009).
Kerjasama yang dijalin FIFA tidak hanya terfokus pada kompetisi antar Negara seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Asia, dan sebagainya. FIFA juga membentuk kerjasama dengan Negara-negara yang lebih banyak dalam taraf klub dimana ke semua klub itu dipersatukan dalam sebuah kompetisi regional semacam UEFA Champions League, UEFA Europa League, AFC Cup, Copa Libertadores, Gold Cup, dan sebagainya yang kemudian di antara para juara-juara di antara kompetisi tersebut dikumpulkan lagi dalam sebuah kompetisi antar klub Internasional yang dinamai FIFA Club World Cup yang diadakan setiap tahun. Intensitas pertemuan yang dihasilkan para klub-klub dalam FIFA Club World Cup ini tentunya akan membuat ketertarikan tertentu dari pihak-pihak sponsor tertentu yang biasanya berlabel Multi National Corporation atau MNC.
Sumber dana sebuah klub-klub yang berafiliasi kepemilikan individu pastilah bergantung pada seberapa besar sponsor ingin mendanai mereka selain Pendapatan tiket maupun merchandise yang jadi pendapatan wajib mereka. Di klub-klub besar Eropa, tidaklah sulit untuk mendapatkan pendapatan yang ingin mereka capai. Selain karena faktor popularitas dan jangkauan global yang sudah terbentuk, mereka mempunyai citra tersendiri di mata sponsor sehingga banyak di antara MNC dari luar Eropa yang bersedia untuk mendanai klub-klub tersebut. Sebut saja Manchester United klub asal Britania Raya yang baru saja meneken kontrak dengan DHL sebuah perusahaan yang berkonsentrasi pada bidang jasa pengiriman. Pundi-pundi uang klub ini akan semakin bertambah lantaran bukan hanya bantuan pengiriman logistik saja yang disodorkan tetapi juga bantuan dana sebesar 40 juta pounds (Rp 563 miliar) dengan durasi kontrak selama empat tahun. Kemudian Barcelona klub asal Catalan Spanyol yang menjalin kerjasama dengan salah satu anak organisasi PBB yaitu Unicef. Fenomena kerjasama yang dialami Barcelona agak sedikit berbeda dengan apa yang dilakukan klub-klub lain. Perbedaannya adalah jika klub-klub lain biasanya memasang sponsor utama yang mendanai mereka pada jersey atau kaos mereka tetapi jika Barcelona lebih memilih Unicef sebagai logo yang ditampilkan di jersey mereka karena mereka telah berkontribusi dalam menyalurkan sumbangan kepada Unicef setiap tahun.
Ternyata bukan hanya sponsor yang berminat terhadap klub-klub yang sudah populer di eropa dan sudah mempunyai nama besar serta berprestasi besar di wilayahnya. Ternyata fenomena klub-klub eropa ini juga mengundang para investor untuk bergerilya menanamkan saham di klubnya masing-masing atau menguasai saham mayoritas klub untuk dapat menjadi owner dari klub-klub tersebut. Inilah salah bentuk kerjasama multilateral yang dihasilkan dari system kompetisi yang telah diciptakan oleh FIFA dengan dasar-dasar dan prosedurnya dalam statuta FIFA.
Beberapa di antara Investor asing di klub-klub besar Eropa adalah Roman Abramovich, seorang pengusaha minyak asal Rusia yang mengakuisisi Chelsea dan memegang sebagian besar saham Chelsea pada tahun 2003 dan membangun timnya perlahan hingga besar seperti sekarang yang mempunyai jangkauan global ke seluruh dunia. Investor berikutnya adalah Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan, Milyarder asal Abu Dhabi yang mengakuisisi Klub Inggris yaitu Manchester City. Mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra juga pernah mengakuisisi klub ini sebelum akhirnya digantikan oleh Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan.
Jadi, pada dasarnya Sepakbola juga dapat dijadikan sebagai media diplomasi yang berguna untuk mengembangkan sistem perekonomian suatu Negara. Dalam beberapa kasus para pemain Sepakbola juga mempunyai peranan penting dalam mewujudkan suasana aman dan kondusif di dalam dunia Internasional. Para pemain ini seringkali menjadi duta dalam acara sosial kemanusiaan.
Untuk mendukung terwujudnya sebuah kesejahteraan umum, sudah selayaknya Negara-negara harus terus-menerus melakukan revitalisasi dan menemukan cara yang inovatif dalam mewujudkan itu semua. Salah satu cara yang paling inovatif adalah memberikan dukungan policy, pendanaan pembangunan infrastruktur yang cukup, serta jaminan perizinan bagi penyelenggaraan kompetisi sepakbola professional yang kini menjadi suatu tren global dan mampu mendorong lahirnya ekonomi baru di seluruh lini masyarakat sekaligus menciptakan perdamaian mondial melalui Sepakbola itu sendiri.

Daftar Pustaka :

DAFTAR PUSTAKA

Pandjaitan, Hinca IP. 2011. Kedaulatan Negara Versus Kedaulatan FIFA, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama

Sumber lain :

http://www.un.org/News/Press/docs/2006/org1469.doc.htm

 

http://politik.kompasiana.com/2010/04/21/diplomasi-publik-indonesia-1/

 

http://agenbola368bet.biz/sejarah-fifa-dan-hubungannya-dengan-indonesia.html

http://berdikarionline.com/olah-raga/20110714/sepakbola-rakyat-pssi-dan-hegemoni-fifa.html

http://bola.inilah.com/read/detail/1768179/mu-jalin-kerjasama-dengan-dhl

http://www.bola.net/spanyol/sheikh-mansour-ingin-akuisisi-madrid.html

 

Sebuah Ironi di Jember

“JemLogo Jemberber Itu Sangat Potensial, Tapi Tidak mampu dimaksimalkan oleh pemerintah setempat” Itulah sedikit kalimat yang terlontar dari masyarakat Jember yang sempat berbincang ringan dengan saya di sebuah warung kopi. Seolah Mengamini pernyataan dari orang tadi, memang banyak sekali hal-hal yang benar-benar di sia-siakan oleh pemerintah setempat. Hal pertama yang membuat saya menggumam tentang kinerja wakil rakyat Jember ini adalah banyaknya pengemis yang berkeliaran di daerah sekitar Tegalboto atau yang lebih dikenal dengan sebutan daerah Kampus. daerah yang dari lalu lintasnya saja sudah banyak berkeliaran mobil-mobil mentereng khas anak muda, kemudian Sepeda motor yang berlomba-lomba pamer kehebatannya, serta adanya Gedung-Gedung tempat aspirasi Rakyat alias DPRD yang sudah berubah fungsi di malam hari menjadi tempat tongkrongan Kopi, Entah bagaimana fungsi gedung itu jika sudah dihuni para pekerjanya di siang hari, apakah berfungsi dengan baik atau hanya menjadi sekedar tempat tongkrongan layaknya DPRD di malam hari, semoga saja tidak.

JFCkembali pada bahasan awal tentang Potensi Jember. Jember sangat terkenal dengan JFC-nya, hasil dari kekayaan intelektual yang di implemetasikan dengan baik itu sudah dapat membawa nama Jember naik daun dan membuat Jember mempunyai nama di dunia Internasional Lewat prestasi-prestasi yang sudah diraih di antaranya : Runner up 1 kategori Best National Costume di Ajang Men Hunt International 2011 di Taiwan, dan The WInners dalam Ajang Mister International 2011 di Jakarta serta di Mister Universe Model Peagent 2011 di Republik Dominica juga akan tampil JFC Tahun ini. akhir bulan ini JFC akan dihelat di Jember, tepatnya tanggal 23-24 Juli. sebagai salah satu acara karnaval terheboh di dunia tentunya acara ini tak luput dari perhatian media lokal maupun luar. Tertarik menyaksikannya ?? hem, itu tadi data dan fakta seputar JFC, lalu mari kita tatap JFC dari sudut pandang lain, JFC memang sudah menghebohkan Dunia tapi apakah JFC ini mempunyai dampak signifikan untuk rakyat Jember secara keseluruhan, jika di analisa lebih jauh ternyata JFC ini hanya membawa nama baik Jember bukan membawa kehidupan Jember kepada yang lebih baik. dan itu seharusnya pihak Pemerintah setempat yang lebih sensitif menangkapnya. Kehebohan JFC hanya bisa membuat kaum-kaum bawah Jember ini terpana dan bengong, seakan-akan hanya menjadi seorang penggembira saja tanpa tahu bagaimana nasib mereka ke depan.

Masih dari potensi pariwisata Jember, kalau anda pergi Ke jember kurang rasanya jika anda tidak mengunjungi pantai watu Ulo dan pantai papuma. dua pantai yang menghadirkan eksotika lautan dengan bebatuannya yang menjulang ini memang sedap jika dipandang mata. tapi sayang dua potensi pariwisata ini lagi-lagi di sia-siakan pemerintah setempat. untuk pengelolaan tiket sebenarnya sudah bagus, tapi kemudian ketika kita sudah menginjakkan kaki di watu ulo pasti kita akan menggumam “Trus duwike tiket iku mau gawe opo nek koyok ngene tok isine, (lalu uang tiket itu tadi buat apa kalau isinya cuma seperti ini)” benar-benar heran, pengawasan tiket yang cukup ketat seperti itu hanya berbalas pemandangan pantai saja tanpa ada fasilitas tambahan di areal wisata tersebut. jangankan fasilitas tambahan, WC pun hampir tidak ada di areal pantai watu ulo, yang ada hanya lautan biru dengan pantainya berpadu dengan pohon-pohon meranggas di pinggirannya. benar-benar bertepuk sebelah tangan jika saya memperhatikan pengelolaan di daerah ini.

Mari kita bandingkan dengan Kondisi di Papuma, sepintas kondisi di pantai ini memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi di watu ulo. adanya warung-warung seafood bakar dengan beberapa villa-villa dan dibangunnya Wahana wisata baru-baru ini membuat pengelolaan papuma jauh lebih unggul dibandingkan watu ulo. namun, ketika kita memperhatikan akses ke kedua daerah wisata ini. Benar-benar membuat saya mengelus dada. di Halaman Web pemkab secara terang-terangan memajang watu ulo dan papuma sebagai salah satu tujuan wisata yang paling sering dikunjungi, tapi pihak pemerintahan tidak segera memperbaiki akses jalan ke kedua daerapantai papumah tersebut. Aspal-aspal berlubang yang semakin banyak, papan nama tujuan papuma yang terlalu sederhana dan tidak sebanding dengan potensi namanya, lalu jalan tanjakan di dalam hutan sebelum papuma yang benar-benar hancur adalah sebuah kecacatan untuk sebuah area wisata yang benar-benar dibanggakan. Seorang wisatawan asing yang sempat ngobrol dengan teman saya bahkan berkata “pantai ini sebenarnya bagus, lebih bersih daripada Kuta (Bali), kenapa tidak dimanfaatkan lebih baik lagi?” benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala lagi. jika tetap seperti ini pengelolaannya, siap-siap saja Jember akan hanya bisa melambaikan tangan kepada daerah Lain yang sudah lebih professional pengelolaannya.

dari sisi perkebunan Jember sudah terlihat dari Logo kabupatennya dengan adanya daun Tembakau yang merepresentasikan bahwa kabupaten jember selain dikenal sebagai gudang pangan, juga dikenal sebagai daerah penghasil komoditi tembakau yang cukup terkenal dan menghasilkan devisa cukup besar bagi negara disamping komoditi perkebunan lainnya. Benarkah demikian …..?? mari kita teliti. pertanyaan saya tentang hal ini, jika Jember memang sudah cukup dikenal akan tembakaunya tapi kenapa tidak ada Produsen Rokok dari Jember yang membahana namanya ?? katakan begini, Jika Kudus punya Djarum dan museum kreteknya dan Surabaya dengan Sampoernanya, kenapa Jember tidak punya produsen Rokok sendiri atau bahkan menciptakan Museum Tembakau seperti yang sudah digagas Kudus untuk lebih memberdayakan kearifan Lokal. sempat terdengar kabar bahwa Jember sudah dikontrak Gudang Garam sebagai tempat produksi, tapi dalam kenyataannya ketika saya bertanya-tanya pada masyarakat lokal di sini jawabannya malah ada yang tidak tahu, meragukan, bahkan tidak pernah tahu sama sekali. benar-benar membuat otak saya penuh dengan pertanyaan lagi tentang Jember. menarik ketika membaca sebuah komen dari warga Jember yang sedang studi di Bandung pada Halaman Web pemkab Jember, salah satu kalimatnya berkata “petani tidak butuh hiburan akan tetapi butuh kesejahteraan”. saya sangat setuju ketika membaca pernyataan ini, rakyat Jember tidak seharusnya membanggakan JFC, BBJ, dsb yang tidak mempunyai implikasi secara nyata terhadap kehidupan masyarakat Jember secara keseluruhan.

dan yang paling membuat saya Jengkel adalah tentang jalur transportasi ke Jember. Bayangkan, untuk bisa menuju Jember hanya ada beberapa wahana transportasi yang bisa ditempuh aksesnya pun hanya bisa melalui jalur darat padahal Jember punya bandara yang sekarang katanya kondisinya masih bagus tapi “terbengkalai” karena pemerintah yang kurang siap menanganinya. Jika kita berangkat dari barat kita bisa numpang menuju Jember dengan kereta Api berbayar. itu adalah satu-satunya alat transportasi yang difavoritkan pengunjung kebanyakan karena Kemurahan dan Kenyamanan transportasi dan memang faktanya infrastruktur transportasi masih prima, mulai dari kondisi stasiun dan kereta api itu sendiri. Berangkat dengan menggunakan Bus …?? ini favorit saya, tapi mayoritas kondisi bus ekonomi yang kurang memadai pasti membuat pengunjung memutar otak untuk menaikinya dan buat yang berkantong tebal pasti lebih memilih bus patas dengan biaya dua kali lipat dar bus ekonomi, tapi biaya itu sepadan dengan pelayanannya memang. Seandainya Bandara Jember itu benar-benar berfungsi optimal, mungkin tinggal menunggu hari saja untuk melihat Jember Hidup lagi. tapi lagi-lagi Rakyat Jember harus berangan-angan semu.

Pemikiran ini hanyalah sebuah keprihatinan saya atas kondisi Jember yang ada sekarang. Masih banyak hal lain yang bisa dikritisi, bisa saya katakan masih sangat banyak dan ini hanya secuil dari kemunduran Jember yang perlahan-lahan semakin jelas terkuak. Sebagai Contoh : Bandara yang terbengkalai, Pembangunan yang dirasakan hanya berpusat di satu daerah yaitu kota jember, kinerja DPRD yang semakin keluar dari trek, dsb. saya memang bukan asli warga Jember tapi merasakan bahwa Jember tidak sepantasnya berada pada Kondisi yang ada sekarang. coba perhatikan daerah Jawa Timur sisi Barat, Kediri, Lamongan, Jombang, Madiun, Malang, Surabaya, masing-masing mempunyai potensi yang benar-benar diasah secara tajam dan menjadi simbol daerah yang benar-benar membuat wisatawan Kagum dan ingin kembali lagi ke daerah tersebut. Semoga saja kritik-kritik di atas dapat menjadi sebuah motivasi bagi para pembaca sekalian untuk menghadirkan Jember yang lebih baik dan berkualitas dari berbagai aspek. (3 word)

“thnks for read”